Category Archives: a piece of happiness

happy birthday me! 

today’s my birthday date and I – am 16 now. 17 on eyes.

1 tahun menuju pengesahan kartu tanda penduduk (KTP) dan surat izin mengemudi (SIM) motor dan mobil. X”D a-ha-hah

terimakasih untuk semuanya, yang sudah repot-repot mau ngucapin baik itu di sosial media, sms, yang bela-belain nelpon buat ngucapin padahal beda operator dan malah sedikit curhat soal modemnya yang error… //heh yang ngucapin di BBM juga, tak lupa terimakasih untuk google si autobot yang pagi-pagi udah ngasih google doodle berupa cake padahal kan baru aja adzan shubuh..

terimakasih juga buat mon amour Sabika Amalina yang udah bikin masterpiece alay-nya, yang menyulap foto alay saya dengan yamapi dan… terimakasih juga buat my beloved bae (nge-swag dikit boleh lah) Sabila Amalina yang juga udah ngucapin jam 12 lewat padahal kan saya lahirnya jam 9 pagi / = w=)/ rabu you twin!

walaupun hari ini gak ada syukuran apa-apa, i’m happy enough to know that y’all remember my basudei date, remember that i’m alive and realize my existence here ^ ^

Sunday Night: a story about rainy day

Telah terhitung satu minggu lewat dua hari sejak insiden tabrakan antara pengendara motor dengan seorang pejalan kaki yang ceroboh, asal main nyebrang tanpa tengok kanan kiri terlebih dahulu. Saya masih belum mengatakan apa-apa tentang hal ini pada warga rumah; mereka sih tahunya memar yang lumayan tidak biasa ini hanya sebuah akibat dari kesalahan posisi tidur saya yang memang begitu. These bruises – on my up-right arm and my left leg, exactly on the calf – are just liked an abstract painting. A simply beauty of an absurdity.

(oh iya, saya belum cerita soal kronologi insiden tabrakan itu. well, gonna post it on the next post. o_o)

Hari itu (sabtu, 19 juli 2014) saya pulang dengan bermandikan air hujan (yang entah terkontaminasi zat polutan dan zat korosif lainnya) dan tak lupa, aroma petrichor. Hujan yang baru saja turun dan memuntahkan semuanya, membangunkanku yang tengah terlelap dalam alam delusi, di pojokan sebuah angkutan kota dengan rute serang-cilegon. Deras sekali.

Dengan terpaksa saya turun di halte depan komplek PCI, dan segera mencari perlindungan. Menunggu, menunggu, dan menunggu, yang ditunggu tak kunjung reda, akhirnya hujan saya terjang juga. Terpaksa harus bermandi hujan.

Namun, saya akui sore itu begitu indah.

Sesampainya di tempat saya biasa menunggu angkot PCI, saya pun segera menaiki angkot PCI yang baru saja tiba (dan kebetulan di sana tidak ada angkot samasekali), berhubung hujan masih lumayan deras, walau tidak sederas tadi.

Tiba-tiba saya menyadari sesuatu, salah satu badge pin yang melekat pada tas saya lepas. Saya pun panik. Segera saya pun turun dari angkot tersebut (berhubung angkot tersebut belum juga beranjak dari posisi saya naik tadi. Ketemu, ternyata jatuh di dekat kubangan air ketika saya naik tadi. Ceroboh sekali, ya. (ah iya, bagi saya badge pin begitu berharga. Sama berharganya dengan perangko-perangko bagi para filatelis. Tiap badge pin memiliki kenangan tersendiri. Nah, badge pin saya yang lepas tadi, saya dapat ketika olimpiade geografi & geosains nasional 2014 di ITB Mei lalu, dan hanya mendapatkan peringkat ke-24 dari 100 peserta yang ada.)

Akhirnya angkot yang saya tumpangi pun beranjak juga. Hujan pun tak kunjung reda, setelah turun dari angkot saya pun harus jalan kaki terlebih dahulu ke dalam komplek. Benar-benar bermandi hujan, dan basah kuyup, berhubung saya lupa bawa payung dan sempat diomeli ibu ketika di halte tadi. Namun, seperti apa yang telah saya tulis tadi, sore itu benar-benar indah. Langit cukup terang kala itu, tidak gelap dan berkawan petir. Cukup membuat saya tenang.

Yah, omong-omong sudah terhitung berapa tahun ya, sejak saya terakhir kali bermandi hujan ketika kecil dulu? (:

#QuoteofTheDay #FrançoiseHardy

tumblr_mugzmi11aV1rdmp6eo1_500

“I thought at first my parents were divorced — at that time it was not a good thing, it was a kind of shame. My father didn’t help much financially my mother, and all the other girls, little girls, were dressed differently than I was — their parents had more money…I didn’t enjoy at all everything, the trappings, when all of a sudden you become very famous… [on being taken up by the fashion houses] it was work, things I had to do, a chore — I didn’t enjoy it at all…It is quite impossible to stand — to be admired too much — it is not a normal situation…I don’t like that at all…I am not comfortable with my professional life really, so the word ‘icon’ — it’s as though you were talking about someone else, it’s not me really…I feel happy when I’m on my bed, in my room with a good book.”


 Françoise Hardy, 2011