untitled

DSC00832

i wish i could fly.

~rukapyon 2014

Advertisements

Gak lagi-lagi deh 

Jadi, awalnya saya memutuskan untuk begadang dan niatanya sih mau lanjutin nonton Ano Hana The Movie, sih. Namun, berhubung lagi gak dibolehin buat berkhalwat sama lepi-kun, akhirnya saya memutuskan untuk menghabiskan malam dengan mencurahkan isi hati *tsahh* dengan menuliskannya semua di red checker note book ter-suki desu dan membuat sketches desain baru di binder, dengan ditemani oleh oldies songs yang mengudara dari stasiun radio favorit saya (well, gini-gini saya suka dengerin radio. :B)

Dan… kejadian horror-nya dimulai dari sini /”:

It was a quarter to 12 dan saya masih terjaga, mendengarkan radio dan berkutat dengan desain-desain saya. …dan entah bagaimana awal mulanya tiba-tiba pintu kamar saya terbuka sendiri… ;A;)/~ padahal enggak ada siapa-siapa. Awalnya sih biasa aja, tapi berhubung saya sendirian di kamar dan kamar saya di atas sendiri pula, akhirnya saya memutuskan untuk hijrah downstairs ke bawah (ke kamar adek) karena lama-lama takut juga. Kucuk-kucuk-kucuk, sampailah saya di kamar adek. Dan seketika saya langsung ingat Ibu menyimpan lepi-kun di dalam meja lemari (atau apalah itu) adek.

Finalement, dan… akhirnya saya pun memutuskan untuk berbuat bandel dengan… *drumrolls* main internet. Awkawkawka.

Awalnya takut juga sih kalau tiba-tiba ibu/tou-san keluar dari kamar dan menemukan saya yang tengah nge-net tengah malam dengan khidmatnya (?) walau pada akhirnya saya main enggak sampai satu jam. Setelah selesai, saya pun menggiring lepi-kun kembali ke kamar adek dan berhubung kantuk belum juga menghampiri, akhirnya pun saya memilih untuk menulis draft. Ternyata eh ternyata, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar ibu terbuka. Refleks, saya pun langsung menutup lepi-kun yang automatically langsung mode bobo malam (?) dan saya langsung pura-pura tidur dengan style tidur saya yang seperti mayat (Tou-san sih bilangnya begitu). Karena takut tiba-tiba ibu mengintip dan masuk ke kamar, saya pun menyembunyikan lepi-kun di balik bantal (yang malah percuma, soalnya kabel charger-nya masih kelihatan). Benar saja, tiba-tiba ibu masuk dan (mungkin karena lihat kabel charger dan laptop yang di balik bantal) ibu pun langsung meraih daun telinga saya (you know lah bakal diapain X//D) dan langsung diomelin.

Ibu: “ngapain kamu pura-pura tidur?”
Saya: “he-eh” (ceritanya saya lagi pura-pura setengah tidur)
Ibu: “ibu kan udah bilang sama kakak kan, kakak gak boleh main laptop hari ini?”
(Saya pun bangun dari tidur dengan poni panjang yang menutupi muka [bayangin sadako aja deh :v])
Saya: “he-eh (lagi)”
Ibu: “buka rambut kamu itu” (awalnya saya bingung ini maksudnya dibuka, rambutnya dilepas? :v sedetik kemudian sayapun baru ngerti maksudnya disuruh benerin poni panjang saya yang nutupin muka.)
Saya: *benerin poni*
Ibu: “beresin lagi charger-nya” (kemudian ibu pun kembali ke kamarnya dengan membawa lepi-kun ;A;)/~)
(kemudian saya pun ketawa-ketawa sendiri :”V)

Well.. sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga ke dalam toples. Toples penuh kacang. XD dibilang kapok ya enggak, dibilang mau ngulangin lagi ya juga gak mau :v

Yosha, sekian dari saya. Don’t try this at home bagi yang enggak mau kena omel sama orang tuanya. Keep calm and here is a free hug from dera :3

dwwwwwwwd

~rukapyon

untitled

Gelisah ini meraung

Sesak dalam ruang

Menggaung

Aku menunggu, dalam detik-detik tak terhitung

Atas kepastian yang

tak berujung

dalam hati mendesis sepi, mendengung

Sampai kapan aku membiarkan resistensi dan eksistensi diri ini

mengabaikan waktu

membiarkan ia membunuhku, sepi.

Memburu-buru

Lambat laun aku akan lapuk sendiri

Aroma waktu menusuk hidung

Wajah waktu menatap aku, menampar aku

Aku mati menunggu.

terakhir aja (17)

untitled 22/03/14

Berlari,

berlari, menerjang

waktu

berlari mengejar waktu,

Mengalahkan waktu

Mengerjar bayangan

Tahu, ya aku

tahu

Takkan sanggup mengejar waktu, menarik ekor waktu

Sekali

pun

Tak selamanya aku

sanggup mengejar

waktu

Mengerahkan segala wujud

aku

Yang terengah-engah dikikis

waktu

Lambat laun aku akan terhenti

Diam

dan terduduk,

Menggenggam bulir-bulir peluh,

menunduk

Mengulum senyum pahit